Museum Sang Nila Utama

Riau memang mulai dikenal memiliki beragam potensi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Pesona alam di dataran Riau benar-benar memiliki daya tariknya tersendiri.

Sehingga tak heran jika mulai banyak wisatawan, baik lokal maupun internasional yang berkunjung  ke tanah Riau.

Mulai dari wisata pantai, wisata gunung, wisata air terjun, wisata seni, wisata kuliner, hingga wisata sejarah sekalipun bisa anda temukan di tempat ini.

Berbicara mengenai wisata sejarah, tak ada salahnya jika anda berkunjung ke Museum Sang Nila Utama. Disini anda bisa belajar banyak hal mengenai sejarah-sejarah di Kota Riau sebelum-sebelumnya.

Nah bagi anda yang tertarik mengunjungi Museum ini, berikut ini penjelasan lengkap mengenai wisata Museum Sang Nila Utama.

Sejarah Museum Sang Nila Utama

Banyaknya peninggalan-peninggalan benda dan budaya yang berada di Riau memicu pemerintah setempat untuk membangun sebuah tempat yang digunakan untuk melestarikan benda-benda bersejarah tersebut. Hal ini pula lah yang menjadi latar belakang dari pembangunan Museum Sang Nila Utama.

Pembangunan museum ini dimulai pada tahun 1984/1985. Awalnya museum ini dikenal sebagai Museum Negeri Provinsi Riau. Dan diresmikan oleh Direktur Jenderal kebudayaan, Prof Edi Sedyawati pada tanggal 9 Juli 1994.

Namun setelah UU no. 22 tahun 1999 keluar dan direvisi menjadi UU no. 32 tahun 2001 mengenai Pemerintah Daerah. Museum ini bergnati nama menjadi Museum Sang Nila Utama.

Nama dari Sang Nila Utama sendiri merupakan nama Pangeran Sriwijaya yang kemudian diangkat menjadi Raja Bintan serta menjadi pendiri Kerajaan Singapura di tahun 1922. Wilayah Riau sendiri dulunya adalah pusat dari kebudayaan dan pernah menjadi kerajaan besar di Indonesia di puncak kejayaannya.

Arsitektur Bangunan

Bentuk bangunan dari Museum Riau ini memiliki gaya arsitektur Rumah Tradisional Melayu Riau. Gedung induknya sendiri memiliki luas mencapai 1.123 m2.

Museum San Nila Utama ini juga memiliki fasilitas-fasilitas yang cukup lengkap lainnya seperti taman dengan sarana bermain, perpustakaan yang dapat digunakan masyarakat untuk membaca maupun mencari informasi, gedung audiotorium untuk tempat membuat acara penyuluhan, seminar, dan masih banyak lainnya.

Di bagian halaman depan, pengunjung bisa menjumpai adanya koleksi museum yang cukup besar yaitu miniature dari alat pengeboran minyak yang merupakan sumbangan dari perusahaan Chevron.

Menuju halaman belakang, pengunjung bisa melihat adanya koleksi kerangka ikan paus. Dan memasuki gedung utama, anda akan disambut petugas-petugas Museum yang ramah dan siap melayani anda.

Sebelum memasuki Museum, biasanya pengunjung diminta untuk menitipkan barang-barang bawaan di tempat penitipan. Setelah itu barulah pengunjung bisa mengelilingi seluruh ruangan-ruangan yang ada di museum secara bebas.

Koleksi-koleksi Museum ini biasanya dipajang, baik itu di dalam lemari kaca maupun di luar lemari. Untuk koleksi yang dipajang di dalam lemari, biasanya merupakan koleksi-koleksi Museum yang memang berusia cukup tua dan membutuhkan perawatan khusus.

Namun memang tidak semua koleksi yang dipajang di dalam Museum adalah koleksi yang asli, beberapa diantaranya ada yang merupakan replika.

Koleksi Museum Sang Nila Utama

Di dalam Museum, adna bisa menemukan koleksi –koleksi sejarah yang jumlahnya mencapai 4.000 lebih. Koleksi-koleksi tersebut berupa pakaian adat, instrument music, permaina n tradisional, artefak, foto, dokumen, maket, dan masih banyak benda sejarah lainnya. Semua benda-benda tersebut tersimpan rapi di dalam kaca sehingga pengunjung tidakd apat menyentuhnya. Bangunan yang berdiri di area seluas 2 hektar ini memiliki 2 lantai dengan halaman luas serta lokasi pameran yang berada di area Museum.

Selain koleksi-koleksi bersejarah, Museum Sang Nila Utama ini juga memiliki beberapa koleksi lainnya dalam berbagai kategori. Misalnya saja kategori Geoligika yang berupa batuan, mineral, fosil, serta benda-benda yang dibentuk dari alam, biologika seperti rangka manusia, hewan, tengkorak, dan tumbuhan baik itu fosil maupun bukan.

Etnografika, seperti benda-benda yang merupakan hasil dari budaya atau identitas etnis tertentu. Arkeologika, benda-benda koleksi dari peninggalan budaya dari masa prasejarah hingga masuknya pengaruh barat. Historika, koleksi yang memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi objek dari penelitian yang berasal dari masuknya pengaruh barat hingga kini.

Numismatika, koleksi yang berkaitan tentang mata uang ataupun tanda jasa seperti medali dan lainnya. Heraldika, lambing, tanda jasa, dan lainnya. Fiologika, benda-benda koleksi fiologi atau naskah tulisan tangan yang kuno.

Keramonologika, koleksi-koleksi benda pecah belah yang berbahan dasar tanah liat. Seni rupa, koleksi artistic dua atau tiga dimensi, dan Teknologika yang merupakan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan perkembangan teknologika dari yang masih tradisional hingga yang sudah modern.

Selain itu terdapat pula miniature-miniature dari rumah melayu yang berbentuk Dapur Bubung Panjang yang dikenal dengan nama Gajah Menyusu. Ada pula miniature Candi Muara Takus, Masjid Raya Pulau Penyengat, Istana Siak, Istana Pulau Penyengat, dan masih banyak lainnya.

Di sisi lain dari Museum ini ada banyak pula peninggalan-peninggalan benda berserajarah di Jaman Belanda seperti tustel, senjata api, telephone engkol, hingga teropong. Terdapat pula wayang-wayang dan topeng yang beraneka rupa yang biasanya hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.

Menariknya lagi, di Museum Sang Nila Utama juga menyimpan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan pengeboran minyak bumi yang berada di wilayah Riau.

Pengunjung museum ini memang tidak hanya berasal dari Indonesia saja, bahkan banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Museum ini, dari sekedar melihat ataupun belajar dan meneliti banyak mengenai hal-hal yang berada di dalam museum ini.

Harga Tiket Masuk dan Rute Wisata

Museum ini buka setiap harinya, kecuali hari Senin. Untuk hari Selasa hingga Kamis, buka pada pukul 8 pagi hingga setengah 4 sore. Dan untuk hari Jumat, Buka pada pukul 8 pagi hingga 11 siang dan jam 2 Siang hingga 4 sore. Dan untuk Sabtu-MInggu buka pada pukul 8 pagi hingga 2 sore. Untuk tiket masuknya sendiri, pengunjung yang datang tidak dikenai biaya sedikit pun.

Museum Sang Nila Utama ini berada di Jl. Jenderal Sudriman no. 194, Tengkerang Tengah, Marpoyan Damai, Pekanbaru. Karena lokasinya yang cukup strategis, anda tidak perlu khawatir jika tidak menemukan tempat ini.

Dari pusat kota Pekanbaru, anda tinggal menuju Jl. Lintas Timur Jambi-Riau dan terus menujus Jalan Sepakat. Setelah itu lanjutkan perjalanan menuju Jl. Bukit Barisan. Setelah itu anda tingga menuju Jl. Harapan Jaya atau Jl. H Imam Munandar – Jl. Lintas Sumatera- Jl. Jenderal Sudirman dan Sampai di lokasi wisata.

Sama halnya dengan museum-museum lainnya yang ada di Indonesia, Museum Sang Nila Utama memang kurang begitu perawatan dan sepi pengunjung. Padahal ada banyak sekali koleksi-koleksi menarik yang ada di dalam Museum dengan banyak cerita-cerita seru di dalamnya.

Sepertinya pemerintah dan pengelola setempat harus memiliki publikasi yang cukup baik sehingga Museum Sang Nila Utama bisa lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi potensi wisata menarik di Riau.

Museum Sang Nila Utama ini menjadi wisata edukasi yang sangat cocok untuk dikunjungi saat berada di Riau. Ada banyak hal-hal berharga yang bisa anda pelajari saat berkunjung ke objek wisata bersejarah ini. Tak hanya itu, spot-spot foto yang menarik bisa anda manfaatkan untuk mengabadikan momen-momen indah. Semoga informasi diatas dapat bermanfaat untuk anda.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *